Thursday, June 01, 2006


RUU Cukai Perlu Ditinjau Ulang

PEMERINTAH perlu meninjau ulang rencana perluasan objek cukai dalam RUU Cukai yang sudah diajukan ke DPR. Pasalnya, perluasan itu berpotensi menimbulkan masalah baru di industri yang menjadi target cukai baru.

Demikian dikemukakan oleh Anggota Komisi XI Dradjad H Wibowo dan Inya Bay menanggapi proses pembahasan RUU Cukai yang saat ini sedang berlangsung. "Kalau saya melihat ini adalah akal-akalan pemerintah untuk mengkompensasi pendapatannya yang menurun di sektor pajak sehingga mencari pendapatan baru di cukai," kata Dradjad, Senin (13/2).

Sebagai contoh ia menjelaskan bahwa dari pembebasan PPN Bm untuk produk minuman bersoda, pemerintah kehilangan pendapatan sekitar Rp3 triliun. Belum lagi beberapa insentif perpajakan yang diberikan pemerintah berpotensi menurunkan penerimaan perpajakan. Oleh karena itu pemerintah harus mengkompensasi penurunan pendapatan itu dengan peningkatan pendapatan lain.

Dalam RUU Cukai yang diajukan hampir berbarengan dengan RUU Perpajakan disebutkan bahwa beberapa komoditi seperti semen, sabun, ban mobil dan air mineral akan dikenakan cukai sekitar 20%.

Dradjad melihat bila produk semen dikenakan cukai tentu akan memukul industri properti yang sedang mengalami tekanan karena penurunan daya beli masyarakat dan semakin mahalnya harga bahan baku. Oleh karena itu dampak turunannya apabila semen dikenai cukai adalah akan banyak perusahaan properti yang kolaps. "Tentu kita tidak ingin hal seperti itu yang terjadi," ujarnya

Sementara itu, anggota Pansus RUU Cukai Inya Bay menyebutkan pihaknya akan mengindentifikasi lagi jenis-jenis produk yang akan dikenai cukai oleh pemerintah. Ia juga tidak setuju apabila pengenaan cukai membuat industri mengalami kelesuan.

"Pembahasan masih berlangsung. Kita masih akan cari masukan dari para stakeholder. Kita juga tidak ingin kebijakan yang diambil pemerintah menimbulkan masalah baru," kata Inya.
Pansus RUU Cukai menurutnya akan mengagendakan pertemuan dengan masyarakat yang terkait dengan cukai pada 16 Februari mendatang. Diharapkan masukan dari masyarakat akan dijadikan bahan pertimbangan bagi pemerintah untuk meninjau kembali masalah pengenaan cukai ini.

Inya juga mempertanyakan dasar perluasan pengenaan cukai yang diusulkan pemerintah. Sebab sepengetahuannya dasar penerapan cukai dahulu dimaksudkan untuk menurunkan tingkat konsumsi atau penggunaan barang-barang yang bisa menimbulkan dampak negatif seperti rokok atau minuman beralkohol.

"Apa sekarang pemerintah mengganggap semen, ban mobil atau air mineral merupakan kelompok barang yang perlu diturunkan konsumsinya seperti minuman beralkohol atau rokok," tanyanya.

Dradjad menambahkan bahwa pihaknya masih lebih bisa menerima pengenaan pajak ekspor terhadap beberapa komoditi seperti semen karena tujuannya jelas untuk melindungi kepentingan dalam negeri. "Tapi kalau untuk cukai, lebih baik pemerintah mengkaji lagi lebih serius," tegasnya.(Uud/OL-06)

Sumber : Media Indonesia, 13 Februari 2006
Sumber Foto : Ebizzasia

0 Comments:

Post a Comment

<< Home